Jenuh, Bergotong Royong
Akhirnya kita sampai pada perjalanan hidup yang menjenuhkan. Mayoritas kehidupan manusia saat ini hanya sampai pada maqam tertinggi kehidupan material yaitu harta berlimpah, rumah megah dimana-mana, makan di cafe and resto dan lain-lain. Tak ketinggalan di kehidupan yang serba instan ini pemanfaatan angle camera harus sangat tepat ketika melakukan jebretan pengabdian apa yang dilakukan pada hari ini, supaya mendapat pujian di kolom komentar, like yang banyak atau dibagikan oleh akun sosmed lainnya.
Followersnya tambah banyak, tambah berbunga-bunga hatinya. Makin banyak yang ngelike makin happy hidupnya. Ya biar dikatakan kekinian dan tidak ketinggalan jaman. Makin banyak yang memuji dia, hidupnya makin terangkat derajatnya karena akun sosmednya. Eiittss tunggu sebentar, yang menaikkan derajat seseorang bukankah Tuhan ya, bukan sosmed? Kenapa sekarang derajatnya diukur dengan angka 1K, 2K dan seterusnya? Mungkin otak kita sudah teracuni oleh kehidupan yang ingin populer kali ya? Gak bisa apa-apa kok ingin populer sih? Berkarya dong!!!
Orang tua kita yang hidup pada zaman 1900-an pernah mengatakan begini "Cong, mun chopanah oreng seppo lambek tak ning ben saromben e penyak" (Nak, air ludahnya orang-orang terdahulu tidak boleh sembarangan menginjaknya). Ketika ditanya kenapa? Mereka menjawab "mungkin kamu bisa sakit". Kalau hal seperti itu diungkapkan hari ini, kebanyakan orang tidak akan percaya hal tersebut dan bahkan menyepelekannya. Entah manusianya yang sudah canggih berpikirnya atau perbuatan orang-orang terdahulu yang tidak berhenti di akal dan rasional ketika bertindak dan melakukan sesuatu.
Dulu, orang gila hanya ada satu macam, yaitu orang yang mengalami gangguan kejiwaannya dan benar-benar gila sungguhan. Sekarang, banyak macamnya orang gila, ada gila yang dibuat-buat, gila high quality, gila low quality, gila kebetulan, dan gila yang sebenarnya. Orang gila hari ini ada yang dibayar, ada juga orang gila yang mencari bayaran. Bahkan ada yang berkata kalau dunia ini juga ikutan gila, ampun apakah dunia ini benar seperti itu atau memang mayoritas penduduk bumi ini yang sudah gila semua?.
Pernak-pernik kehidupan yang seperti ini yang menjenuhkan. Orang yang bisa hidup gila maka ia akan mudah menikmati kehidupan, tetapi bagi orang yang tidak paham dengan kegilaan pada dunia mereka tidak punya tujuan mau kemana? Sebab begini dijulukin orang kuper, sebab begitu dibilang orang gaptek, sebab begini dan begitu dikatakan ketinggalan jaman. Akhirnya orang tersebut berteriak "maunya apa?".
Tawarkanlah pada anak muda hari ini, kehidupan bergotong royong apakah mereka mau? Mereka lebih memikirkan potongan rambut undercutnya, dan pakaian ala film-film hits macam Dilan 1990 dengan jaket jeansnya, dan juga celana sobek-sobek lupa kalau auratnya sudah kelihatan. Kehidupan individualis lebih menarik untuk dijalani hari ini. Daripada kehidupan bersama-sama. Tak ayal kehidupan seperti ini yang membuat orang gila bertambah banyak macamnya. Andai saja kita sadar, hidup bergotong royong itu kita jalani. Mungkin orang gila tetap hanya akan ada satu di dunia ini. Bahkan duniapun tak akan ikutan gila.
Yuks, hidup bergotong-royong supaya tidak menambah populasi orang gila di dunia!!!
Kantor Rayon Averroes, 01 Januari 2019
Followersnya tambah banyak, tambah berbunga-bunga hatinya. Makin banyak yang ngelike makin happy hidupnya. Ya biar dikatakan kekinian dan tidak ketinggalan jaman. Makin banyak yang memuji dia, hidupnya makin terangkat derajatnya karena akun sosmednya. Eiittss tunggu sebentar, yang menaikkan derajat seseorang bukankah Tuhan ya, bukan sosmed? Kenapa sekarang derajatnya diukur dengan angka 1K, 2K dan seterusnya? Mungkin otak kita sudah teracuni oleh kehidupan yang ingin populer kali ya? Gak bisa apa-apa kok ingin populer sih? Berkarya dong!!!
Orang tua kita yang hidup pada zaman 1900-an pernah mengatakan begini "Cong, mun chopanah oreng seppo lambek tak ning ben saromben e penyak" (Nak, air ludahnya orang-orang terdahulu tidak boleh sembarangan menginjaknya). Ketika ditanya kenapa? Mereka menjawab "mungkin kamu bisa sakit". Kalau hal seperti itu diungkapkan hari ini, kebanyakan orang tidak akan percaya hal tersebut dan bahkan menyepelekannya. Entah manusianya yang sudah canggih berpikirnya atau perbuatan orang-orang terdahulu yang tidak berhenti di akal dan rasional ketika bertindak dan melakukan sesuatu.
Dulu, orang gila hanya ada satu macam, yaitu orang yang mengalami gangguan kejiwaannya dan benar-benar gila sungguhan. Sekarang, banyak macamnya orang gila, ada gila yang dibuat-buat, gila high quality, gila low quality, gila kebetulan, dan gila yang sebenarnya. Orang gila hari ini ada yang dibayar, ada juga orang gila yang mencari bayaran. Bahkan ada yang berkata kalau dunia ini juga ikutan gila, ampun apakah dunia ini benar seperti itu atau memang mayoritas penduduk bumi ini yang sudah gila semua?.
Pernak-pernik kehidupan yang seperti ini yang menjenuhkan. Orang yang bisa hidup gila maka ia akan mudah menikmati kehidupan, tetapi bagi orang yang tidak paham dengan kegilaan pada dunia mereka tidak punya tujuan mau kemana? Sebab begini dijulukin orang kuper, sebab begitu dibilang orang gaptek, sebab begini dan begitu dikatakan ketinggalan jaman. Akhirnya orang tersebut berteriak "maunya apa?".
Tawarkanlah pada anak muda hari ini, kehidupan bergotong royong apakah mereka mau? Mereka lebih memikirkan potongan rambut undercutnya, dan pakaian ala film-film hits macam Dilan 1990 dengan jaket jeansnya, dan juga celana sobek-sobek lupa kalau auratnya sudah kelihatan. Kehidupan individualis lebih menarik untuk dijalani hari ini. Daripada kehidupan bersama-sama. Tak ayal kehidupan seperti ini yang membuat orang gila bertambah banyak macamnya. Andai saja kita sadar, hidup bergotong royong itu kita jalani. Mungkin orang gila tetap hanya akan ada satu di dunia ini. Bahkan duniapun tak akan ikutan gila.
Yuks, hidup bergotong-royong supaya tidak menambah populasi orang gila di dunia!!!
Kantor Rayon Averroes, 01 Januari 2019
Comments
Post a Comment