Hujan dan Pelangi
Kadang aku lupa caranya bertanya pada hujan, pada bagian mana ia menghilangkan jejak-jejak cintanya pada air. Sering kali ia menyamarkan jejak pada langkah keraguan pemilik hati. Puisi cintanya hancur lebur merapalkan jejak-jejak itu. Pada hujan aku tenggelam dalam lautan kepayahan. Padamu aku meleburkan perasaan. Ada yang bilang kalau hujan itu adalah rahmat, akupun percaya karena pada setiap detik jam dinding, kamu terlukis abadi di dalamnya bersama hujan apabila musim kemarau panjang di bumi sedang melanda.
Dua menit yang lalu sebelum hujan turun, terdengar ada yang tidak baik dengan dirimu. jendela itu tiba-tiba buram seketika. Ada yang menimpalinya katanya. Sehingga membuat penglihatan dari jendela itu menjadi kabur. Tampaknya hujan diluar membuat kau tak akan pernah tau keadaannya sekarang bagaimana. apakah ia sudah membuat jejak-jejak itu hilang atau belum.
Satu menit yang lalu, hujan begitu asyik menyapaku pada bait-bait sajak ini, ia berbisik lembut melalui atap seng dipojokan sambungan internet berbayar. "aku akan meredakan diriku pada cahaya, pada kelembutan bumi dan tanah, pada matahari yang mulai semakin menuruni bukit anak langit itu". semoga ia cepat reda, membuat rahmat yang kedua kalinya, setelah kekeringan tiba dan setelah pertemuan kita yang sering tertunda.
Pada pelangi itu, aku memperhatikannya lamat-lamat dan pekat sekali ceritanya. ia mulai runtut menceritakannya kepadaku. disamarkannya tulisan ini pada dedaunan akar rumput itu. diletakkannya kisah ini pada jingganya pelangi. ia tak akan pernah sadar, pada siapa aku menulis kalimat sajak ini. tanpa nama tanpa sebutan dan tanpa isyarat, aku menyebut itu kamu.
19 Maret
2019
19 Maret
2019

Comments
Post a Comment